les privat

Fearfullness dan Happiness

Author Image

Umi Zidna

14 April 2026, 11:21 WIB

Saat kecil, rasanya ketakutan itu diantaranya adalah takut bapak ibu sayangnya terbagi seiring lahirnya adik-adik, atau takut diantara bapak ibu ada yang meninggal cepat.

Seiring dewasa dan menjadi orang tua, ketakutan berbalik, takut kalau-kalau anak sakit dan meninggal mendahului kita orang tuanya. Yang namanya fearfulness rupanya berkembang, karena bentuknya berubah, kadang waktu membuat kita melihat ketakutan di masa lalu lebih kecil daripada ketakutan yang kita hadapi sekarang.

Dulu saat jadi bocil, sepertinya sepanjang apa yang kita inginkan bisa keturutan maka di situlah kebahagiaan. Sekarang saat dewasa, bahagia bisa berarti saat semua orang yang kita cintai ada dalam keadaan baik.

Memang, fearfullness dan happiness mampu mempengaruhi cara sikap seseorang. Anak-anak yang definisi bahagia dan takutnya masih banyak bergantung dengan orang tua, rasanya akan lebih manud dengan arahan orang tua, kan apa mau mereka orang tualah yang sebagian besarnya bisa nurutin, sebaliknya apa yang orang tua larang mereka takut akan dampaknya. Orang bilang: bagi anak-anak segala sesuatu akan nampak lebih besar dibanding yang sebenarnya.

Sebaliknya ketika kita sudah masuk menjadi fase orang tua, fase dimana kita mengambil tanggung jawab, mengambil peran mencintai dan memberi, rasanya ketakutan itu adalah saat kenyamanan hilang digantikan kondisi tekanan saat ada masalah. Rasanya takut itu adalah saat dimana kita tidak lagi memiliki pegangan padahal ada banyak orang berpegangan mengandalkan diri kita.

Teringat sebuah janji Allah
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar. (QS. Al-Baqarah ayat 155)

Dunia bagi kita orang dewasa tidak lagi sebesar yang dulu kita lihat saat masa kanak-kanak, karena dunia kita berisi banyak sekali bidang yang menuntut keahlian kita, tidak harus berprestasi di semua hal, tapi kita dituntut agar bisa mengatur banyak hal dengan baik dan seimbang. Kelemahan di satu bidang bisa menjadi kerugian yang kita rasakan, dibayar tunai seringnya. Maksudnya gimana? kalau misalnya, kita ini pandai mencari uang namun tidak pandai mengaturnya, alamak seperti mengumpulkan beras tumpah. Terus lagi, kalau kita berprestasi, tapi lupa harus serius mendidik anak juga, niscaya anak kita mungkin tidak se-berprestasi kita.

Dunia rupanya berjalan dengan menggendong bahagia dan takut bersama. Bekerja keras bukan berarti bisa lepas dari takdir kesempitan dalam ekonomi, menjadi cerdas dan berpendidikan tidak berarti selalu berkelimpahan di atas orang lain. Kadang hidup itu: berlimpah materi tapi masih sulit menemukan nikmatnya beribadah, atau sederhana serba hanya cukup tapi bisa menjalankan amanah sebagai abdullah.

Kita yang sudah menjadi orang tua, ingin memperlihatkan pada anak bagaimana dunia yang seperti ini. Bahwa di balik bahagia dan takut itu ada sesuatu lagi, jika masing-masing ditakar dengan persepsi agama, kita semua pasti bisa lebih dekat dengan kehidupan akhirat. Mengingat dunia ini hanya tempat singgahan sementara.
Bahagia tidak seperti hanya yang terlihat di permukaan, tapi bisa jadi menikmati semua yang Allah berikan dengan perasaan cukup. Takut tidak berarti saat diri tertekan, mungkin tekanan justru membuat kita berkembang.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّة

Author Image

Author

Umi Zidna

Muslimah, Ibu, Pembelajar dan Pengajar.

Leave a Comment


Math Captcha
37 − 34 =